Khutbah Idul Fitri Al Quds



Berhari Raya Di atas Darah Kaum Muslim

Allah SWT telah mengharamkan kita membunuh jiwa kecuali dengan alasan yang dibenarkan syara’. Allah SWT berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ

“Dan janganlah kalilan membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (TQS. Al-An’am [6] : 151)

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ دِمَاءَكُم وَأَمْوَالَكُم عَلَيْكُم حَرَامٌ

“Sesungguhnya darah kalian dan harta benda kalian haram atas kalian.” (HR. Abu Dawud)

Darah kaum Muslim di Afghanistan mengalir di tangan pasukan Amerika, pasukan pemerintah Pakistan dan Afghanistan. Islam dan kaum Muslim sama sekali tidak diberi kesempatan dan tidak memiliki kekuasaan apa pun atas apa yang mereka perselisihkan.

Darah kaum Muslim di Yaman mengalir di tangan pasukan pemerintah Yaman dan kelompok pemberontak Houtsi dalam sebuah konflik keji yang dijalankan oleh orang-orang Arab Saudi dan Iran, yang di belakang mereka adalah orang-orang Amerika dan Eropa, yang menjadikan suasana buruk menjadi lebih buruk.

Darah kaum Muslim di Somalia mengalir di tangan pasukan Ethiopia dan pasukan pemerintah Somalia, serta para pemimpinnya yang buas, di mana tangannya dipenuhi dengan kotoran dan najis.

Darah kaum Muslim di Sudan mengalir di tangan pasukan pemerintah Sudan dan pasukan pemberontak di selatan Darfur dalam sebuah rencana untuk menghancurkan Sudan hingga menjadi serpihan-serpihan kecil.

Darah kaum Muslim di Palestina mengalir di tangan pasukan pendudukan Israel dan pasukan pemerintah otoritas Fatah dan Hamas dalam sebuah rencana keji dan kotor kaum kafir penjajah.

Darah kaum Muslim di Irak mengalir di tangan pasukan pendudukan Amerika dan pasukan pemerintah Irak, serta pasukan kelompok-kelompok sektarianisme yang telah menghancurkan kehidupan jutaan umat manusia.

Darah kaum Muslim di Lebanon, Nigeria, Chad, Maroko, Aljazair, dan di sebagian besar negeri-negeri di dunia Islam mengalir dengan sebab yang sama seperti tersebut di atas, baik oleh serangan pasukan pendudukan, pasukan pemerintah zalim, maupun oleh pasukan kelompok-kelompok peliharaan yang saling berperang dan membunuh berdasarkan aliran, sektarianisme, rasisme, nasionalisme, atau pasukan upahan yang semuanya tidak jelas tujuannya. Semua kenyataan ini terjadi sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah, lenyapnya kekuasaan kaum Muslim, hilangnya hibawa mereka, dominasi kaum kafir atas negeri-negeri mereka, dan jauhnya kaum Muslim dari jalan yang dapat membangkitkan mereka, dan dari melakukan amar makruf nahyi munkar.

Darah mengalir tanpa perlawanan yang sesungguhnya, ruh-ruh para syahid berguguran ke surga dengan izin Allah tanpa peperangan yang sebenarnya di jalan Allah, penjara-penjara dipenuhi dengan orang-orang tanpa kesalahan yang jelas, kehancuran demi kehancuran menimpa kaum Muslim dan kekayaannya, sementara hal yang sama tidak menimpa musuh-musuh mereka kaum kafir dan kekayaannya, sekalipun dengan kehancuran yang sama atau hampir sama.

Khilafah kami dihancurkan, kedaulatan kami dicabut, kekayaan kami dijarah, anak-anak kami dibunuh, cita-cita kami dirusak, kehormatan kami diinjak-injak, kebebasan kami dirampas, negeri-negeri kami dikapling, semangat kami dibunuh, nilai-nilai kami dihancurkan, Al-Qur’an dan tempat-tempat suci kami dikotori, dan kedudukan Nabi kami dilecehkan. Mereka telah berani berbuat macam-macam kepada kami, padahal sebelumnya mereka berada di bawah telapak kaki kami. Kami menginginkan lagi seorang pemimpin seperti Mu’tashim, yang selalu siap memberi pertolongan dan kemenangan kepada kami.

Wahai Mu’tashim, di benteng yang mana Anda bersembunyi? Di pangkuan yang mana Anda berlindung? Para wanita Muslimah menjerit minta tolong karena menderita kepedihan yang luar biasa.

Wahai Mu’tashim, kehormatanku ditelanjangi. Sementara, pasukan Romawi tidak datang kecuali untuk menumpahkan darah, dan mengotori bumi para nabi. Mengapa Anda tidak melihat? Mayat-mayat kami bergeletakan di setiap jalan, setiap tempat, dan setiap rumah. Semua telah menjadi wilayah pembantaian. Mayat-mayat, benda, dan nama pun berceceran. Batu di sini, kepala di sana, kayu di sini, seseorang di sana, mainan di sini, anak kecil di sana.

Wahai Mu’tashim, pasukan Romawi dan Tatar telah datang. Mereka telah siap melakukan berbagai kerusakan. Jika Anda di Baghdad, maka waspadalah. Jika Anda di Beirut, maka waspadalah. Atau, jika Anda di gunung Muqthim, di benteng Kairo, maka Anda tidak perlu menunggunya, dan tidak perlu mengadakan muktamar. Datangilah mereka, sebelum mereka mendatangi Anda; seranglah mereka, sebelum mereka menerkam Anda. Nakfur anjing Romawi menggonggong. Nakfur anjing Romawi membantai. Sementara anjing-anjingnya yang buta memuji. Nakfur meminum darah kami. Nakfur berenang. Sementara anjing-anjingnya yang berupa fasisme dan nazisme yang mengusapnya.

Wahai Mu’tashim, di departemen pertahanan Anda, ada beribu-ribu tentara; dan di Baitul Mal Anda, ada berton-ton harta. Namun, mengapa Anda diam saja? Mereka membela orang-orang baik mereka, maka belalah orang-orang baik Anda. Mereka menolong tetangga mereka, maka tolonglah tetangga Anda. Mereka menjaga negeri-negeri mereka, maka jagalah negeri-negeri Anda. Aku melihat henbusan angin dari kejauhan. Aku berkata: Angin Mu’tashim. Ia sedang di jalan. Dan aku merasakan suhu yang sangat panas. Aku berkata: Api Mu’tashim. Ia sedang di jalan. Dan aku digetarkan oleh petir di langit. Aku berkata: Tentara Mu’tashim. Ia sedang di jalan. Apakah benar ia sedang di jalan? Atau masih di perbatasan?

Wahai Mu’tashim, waktu berlalu dengan cepat. Sementara aku melihat Anda hanya bertahan di belakang kursi yang empuk. Wahai Mu’tashim, jika Anda sedang minum air yang jernih dengan gelas dari emas, maka tengkorak anak-anak kecil adalah gelas-gelas yang mengalirkan darah kami yang suci. Jika Anda sedang makan daging burung atau unta, maka daging-daging kami di atas periuk. Atau jika Anda bergaya dengan kain sutra, maka pakaian kami adalah api yang bergelora. Wahai Mu’tashim, semua menunggu aksi Anda. Wahai Mu’tashim, negeri kami, juga negeri Anda. Wahai Mu’tashim, kejolak kami, juga gejolak Anda. Wahai Mu’tashim, sudah lama kami menunggu Anda, wahai mu’tashim! Aduh, dimana Kahlifah! Aduh, di mana Islam!

Sungguh, Ramadhan telah berlalu. Di bulan Ramadhan ini, berpuasalah siapa saja yang berpuasa, dan berbukalah siapa saja yang berbuka. Syawal telah tiba. Hilal satu Syawal telah terlihat oleh kaum Muslim di seluru penjuru dunia, di bumi bagian timur dan barat. Semuanya telah mengumumkan bahwa hari Ahad (20 September 2009) merupakan hari raya Idul Fitri, kecuali Thaghut Libya yang mendahului sehari, dan mimpi buruk Oman yang menunda sehari.

Mengapa ini semua terjadi? Di mana penyakitnya? Apa yang menjadi sumber penyakitnya? Dan bagaimana kita berada dalam kondisi buruk dan menyakitkan seperti ini, padahal sebelumnya, dalam waktu yang lama kita sebagai umat yang disegani dan tak terkalahkan?

Kami adalah kaum yang telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Dan semala kita mencari kemuliaan pada selain Allah, maka Allah akan menghinakan kita. Apakah kalian mengerti dan sadar, wahai manusia?

Bekerjalah dengan sekuat tenaga untuk menegakkan Khilafah, sehingga kalian kembali menjadi umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Dan kalian akan menikmati kembali hari-hari kemenangan. Sebagaimana generasi umat Islam terdahulu telah merasakannya di Hiththin, ’Ain Jalut, Yarmuk, di saat penaklukkan Makkah, dan di saat perang Badar.

Wahai manusia, sungguh kalian sedang berada di hari (suasana) ketaatan yang besar, setelah berada di bulan ketaatan yang agung, bulan Ramadhan. Untuk itu, jadikanlah ketaatan hari ini sebagai buah takwa dari pelaksanaan puasa dan tarawih (shalat malam). Sambunglah tali kekerabatan di hari ini. Sebab kekerabatan itu bergantung di Arasy dengan berkata: ”Siapa saja menyambung dengan aku, maka ia akan disambung dengan Allah. Dan siapa saja yang memutus hubungan dengan aku, maka dia akan diputus hubungannya dengan Allah.” Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

”Tidak akan masuk surga orang yang memutus )hubungan kekerabatan(.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara; berpegang tegulah kalian dengan agama yang agung ini; bersabarlah kalian, kuatkanlah kesabaran kalian, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu). Sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

”Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah kalian, kuatkanlah kesabaran kalian, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (TQS. Ali Imran [3] : 200)

Selamat hari raya Idul Fitri 1430 H. Semoga kalian selalu dalam kebaikan, dan semoga Allah SWT menerima setiap ketaatan dan ibadah yang selama ini kami dan kalian lakukan. Dan ingsya Allah, di hari raya tahun depan kita sudah berada dalam naungan negara Islam, dan keagungan Islam… Khilafah Islam… kekuasaan Islam. Amin Ya Rabbal Alamin. (Disadur dari Khuthbah Idul Fithri 1430 H oleh Syaikh Isham Amirah: al-aqsa.org, 20/9/2009 from hizbut-tahrir).

Tiada ulasan:

Catat Ulasan