JANGAN BIARKAN UMUR BERLALU TANPA AMAL



Sumber : Matan al-Hikam
Syaikh Ibnu ‘Athaillah Al-Sukandari

Firman Allah Ta’ala:

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari (setitis) air benih, kemudian dari sebuku darah beku, kemudian dari seketul daging; kemudian Dia mengeluarkan kamu berupa kanak-kanak; kemudian kamu (dipelihara) hingga sampai ke peringkat umur dewasa; kemudian kamu (dipanjangkan umur) hingga sampai menjadi tua dan (dalam pada itu) ada di antara kamu yang dimatikan sebelum itu. (Allah melakukan kejadian yang demikian) supaya kamu sampai ke masa yang ditentukan (untuk menerima balasan) dan supaya kamu memahami (hikmat-hikmat kejadian itu dan kekuasaan Tuhan).” Surah Al-Mu’min : 67)

Syaikh Ibnu ‘Athaillah mengatakan:

“Apa yang telah luput daripada umurmu itu tidak akan ada ganti baginya. Dan apa yang telah berjaya bagimu daripada umurmu itu, tidak ternilai harganya.”


Usia manusia bagaikan awan yang berlalu. Sekali melintas maka selama-lamanya dia tidak pernah kembali. Oleh yang demikian, selagi hayat dikandung badan dan selagi kita mempunyai kesempatan, maka gunakanlah umur yang demikian amat berharga itu untuk melakukan dan mengumpulkan amal kebajikan sebanyak-banyaknya.
Sungguh rugi seseorang manusia yang tidak menggunakan usianya dengan baik. Kesempatan itu hanya datang sekali, selepas itu kita akan dihadapkan kepada Allah Ta’ala untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah lakukan selama hidup di dunia ini.

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala, yang berbunyi:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih dan memberi nasihat dengan kebenaran dan memberi nasihat dengan kesabaran.” (Surah Al-’Asr : 1-3)

Begitu pentingnya masa (usia) itu, hinggakan Allah bersumpah dengannya. Sehubungan dengan hal ini, Imam Syafi’i pernah mengatakan:

“Jika sekiranya Al-Quran itu terdiri daripada satu surah saja, maka surah Al-’Asr sudah cukup untuk menjadi pedoman kehidupan manusia.”

Adapun mutiara yang dapat kita raih adalah sebagai berikut:

Iman sebagai landasan hidup
Semenjak kecil, kita sudah diajar dan disuruh untuk menghafal rukun Iman yang enam, yakni percaya kepada Allah, percaya kepada malaikat-Nya, percaya kepada kitab-kitab-Nya, percaya kepada Rasul-Nya, percaya kepada hari kiamat dan percaya kepada qada’ dan qadar daripada Allah.
Bagaimanapun, rukun iman itu tidak memadai kalau hanya dihafal saja. Tetapi hendaklah ia diresapkan ke dalam hati kemudian dibuktikan dengan amal perbuatan.

Renungkan firman Allah Ta’ala:

“Tidakkah engkau melihat bagaimana Allah mengemukakan satu perbandingan, iaitu kalimah yang baik adalah sebagai sebatang pohon yang baik, yang akar tunjangnya tetap teguh, dan cabang pucuknya menjulang ke langit. Ia mengeluarkan buahnya pada setiap masa dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perbandingan itu untuk manusia, supaya mereka beringat. Dan perbandingan kalimah yang buruk seperti pohon yang tidak berguna yang terjungkit akar-akarnya dari bumi; tidak ada tapak baginya untuk tetap hidup. Allah menetapkan pendirian orang yang beriman dengan kalimah yang tetap teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat; dan Allah menyesatkan orang yang berlaku zalim; dan Allah berkuasa melakukan apa yang dikehendaki-Nya.” (Surah Ibrahim : 24-27)

Iman sebagai landasan hidup, adalah bagaikan sebatang pohon yang akarnya menghunjam ke dalam bumi, berdaun rendang (rimbun), berbuah lebat dan batangnya tegak dengan kukuhnya. Pohon seperti ini tidak akan tumbang walaupun dilanda oleh angin kencang. Daunnya yang rendang dijadikan tempat berteduh, batangnya dijadikan tempat bersandar dan buahnya untuk dimakan. Secara keseluruhannya, pohon itu mendatangkan manfaat yang amat besar kepada manusia.

Demikian juga dengan iman. Sebagai seorang yang beriman, hendaknya kita tidak mudah terumbang ambing oleh sebarang keadaan, yang sekaligus mendatangkan keberkatan dan manfaat kepada manusia.

Mengerjakan amal salih
Menurut ajaran Islam, amal salih itu amat luas sekali. Bahkan segala sesuatu yang boleh mendatangkan kebaikan apabila dikerjakan (menurut syariat Al-Quran dan Sunnah), baik untuk diri sendiri, ahli keluarga mahupun orang lain, adalah tergolong dalam amal salih.

Saling menasihati dengan kebenaran

Di dalam Al-Quran, surah Al-Ra’d ayat 17:

“Ia menurunkan air dari langit, lalu membanjiri tanah-tanah lembah menurut kadarnya, kemudian banjir itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa yang dibakar di dalam api untuk dijadikan barang perhiasan atau perkakasan, juga timbul buih seperti itu. Demikianlah Allah memberi misal perbandingan tentang perkara yang benar dan salah. Adapun buih itu maka akan hilang lenyaplah ia tak berharga, manakala benda-benda yang berfaedah kepada manusia maka ia tetap tinggal di bumi. Demikianlah Allah menerangkan misal perbandingan.”


Allah Ta’ala mengumpamakan kebenaran itu bagaikan air hujan dan kebatilan itu bagaikan buihnya. Maka air hujan itu akan mendatangkan manfaat yang besar bagi manusia, sedangkan buihnya akan lenyap tanpa bekas.

Oleh yang demikian, kebenaran hendaklah selalu ditegakkan, walaupun untuk melakukannya itu diperlukan perjuangan dan pengorbanan yang besar.

Saling menasihati dengan kesabaran
Sabar adalah tahan menderita terhadap sesuatu yang tidak disenanginya, serta merasa redha terhadap segala sesuatu yang menimpa. Ikhlas dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada ketentuan Allah setelah berikhtiar dan mengusahakan yang terbaik.
Dari penjelasan surah Al-’Asr di atas, jelaslah bagi kita bahawa orang-orang yang mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya dengan sebaik-baiknya, akan beruntung sebesar-besarnya.

Akhirnya marilah kita renungkan pula sebuah syair para ahli hikmah berikut ini:

“Aku tangisi zaman muda yang telah pergi. Wahai kiranya muda, bilakah akan kembali lagi kepada kami? Sekiranya muda dapat dijual, maka akan ku bayar kepada penjualnya berapapun harga yang dikehendakinya. Tetapi masa muda itu, bila dia telah pergi menjauh, maka dia tidak akan kembali lagi…”

Tiada ulasan:

Catat Ulasan